• Synergy Policies

Pemerintahan Baru Israel Dikhawatirkan Bisa Lebih Keras ke Palestina


Artikel ini dipublikasikan oleh kompas.com dengan judul "Pemerintahan Baru Israel Dikhawatirkan Bisa Lebih Keras ke Palestina" atau pada tautan berikut.


Menampilkan pendapat Dinna Prapto Raharja, Ph.D,

Pendiri Synergy Policies dan Dosen Bidang Ilmu Hubungan Internasional


Lengsernya rezim 12 tahun Benjamin Netanyahu, menimbulkan pertanyaan tentang penyelesaian konflik Israel-Palestina di bawah pemerintahan baru Israel.


Tapi, naiknya Naftali Bennett sebagai Perdana Menteri Israel, justru dikhawatirkan bisa lebih keras pada Palestina untuk memenangkan suara publik.


“Karena kedua kubu politik di Israel sama-sama kanan, yang akan kita saksikan, menurut saya adalah persaingan adu keras terhadap Palestina,” ujar Dinna Prapto Raharja, Praktisi dan Pengajar Hubungan Internasional kepada Kompas.com pada Senin (14/6/2021).


Menurut Dinna, sebutan “partai kiri” yang sering dilontarkan untuk koalisi Bennett hanyalah label yang dilontarkan oleh Netanyahu. Sementara pada kenyataannya keduanya tidak berbeda, keduanya sama-sama garis kanan.


Yang terlihat jelas saat ini adalah bahwa Netanyahu dengan kubu partai-partai pendukungnya, rata-rata berisi partai evangelis yang bergaris kanan keras.


Mereka sangat tidak senang dengan penyingkiran Netanyahu, sementara Bennet dilihat sebagai bencana.


Sementara Bennet sendiri adalah garis kanan, meski koalisinya lebih “warna-warni” dibandingkan koalisi Netanyahu.


“Keduanya berpotensi menggunakan cara-cara populis untuk menarik dukungan massa lewat media, dan cara-cara kekerasan biasanya digunakan untuk menggalang dukungan secara cepat,” terang Dinna yang juga Pendiri Synergy Policies.


“Adu popularitas” ini menurutnya jadi hal yang krusial, mengingat koalisi Bennet hanya menang tipis dari segi mayoritas kursi di Knesset (Parlemen Israel), yaitu beda 1 suara dengan koalisi Netanyahu.


Koalisi Bennet yang isinya “warna-warni” dinilai akan membuat politik dalam negeri Israel sendiri tidak stabil.


Bahkan Dinna menyangsikan jika tokoh kuat lain di kubu tersebut yakni Yair Lapid, sepenuhnya sehati dan sepandangan dengan cara-cara Bennet.


“Netanyahu justru sudah bersuara pada Hamas agar tunggu saja Karena dalam waktu singkat ia akan meruntuhkan koalisi Bennet.”


Jadi menurutnya, belum ada arah perdamaian Israel dengan Hamas meski Pemerintahan Baru Israel berkuasa.


Ada pun rentannya posisi PM Israel yang baru ini dinilai akan membuat Bennet harus beradu popularitas dengan cara keras terhadap Hamas. Itu mengingat publik Israel yang cenderung condong mendukung cara tersebut juga.


Praktisi Hubungan Internasional itu mengamati ketegangan media antar kubu di Israel. Baik koalisi Bennet maupun Netanyahu, diyakini akan fokus ke penguatan citra masing-masing kubunya pada konstituen di dalam negeri.


“Sementara kemungkinan tetangga-tetangga Israel akan “wait and see.” Yang menarik justru bagaimana Bennet maupun Netanyahu berelasi dengan Biden di AS.” ujarnya.


Pasalnya saat ini, Pemerintah Amerika Serikat di bawah Joe Biden terlihat ingin ada suasana dialogis antara Israel-Palestina.


Sementara kubu Netanyahu cukup agresif memastikan AS tetap bertahan dengan posisi dukungan penuh pada Israel, dalam menghadapi Palestina seperti pada masa Donald Trump.

1 view0 comments